Selamat Di Situs Resmi Pedepokan gunung Jati(Asuhan langsung Sesepuh Mbah Jenar).Tulisan ini Hanya sebagai wejangan semata.Ambil sisi Positifnya saja.

PEREWANGAN

salah satu teknik untuk berkomunikasi
dengan jin yang paling mudah untuk
mengetahui keinginan jin. Yaitu
memasukkan jin ke dalam tubuh seseorang.
Di Jawa, kita mengenalnya dengan ilmu
perewangan.
Perewangan berasal dari kata Jawa “rewang”
yang artinya menolong. Maka, “rewang”
mengacu pada seseorang yang bersedia
jasadnya untuk dijadikan medium makhluk jin.
Ilmu perewangan sangat umum dipakai untuk
berkomunikasi dengan jin seperti bila kita
berbicara dengan sesama manusia. Jin jelas
membutuhkan sarana bantu untuk memasuki
dunia fisik. Sebab dia adalah makhluk yang
sebenarnya makhluk metafisik. Bahasa yang
mereka pergunakan juga sebenarnya sangat
berbeda dengan bahasa yang kita pergunakan
sehari-hari. Bahasa jin memiliki susunan kata-kata
dan struktur kalimat yang berbeda dengan yang
kita pakai dalam pergaulan antar manusia.
Dengan kata lain apabila kita berkomunikasi
dengan wujud asli mereka, maka yang kita
pergunakan sebenarnya adalah bahasa “rasa”,
dan yang mereka mengerti adalah “kehendak”,
“niat,” “kemauan” kita saja. Mereka memahami
kita bukan karena susunan kata-kata yang kita
pergunakan. Sama seperti kita berbicara dengan
seseorang yang tidak bisa mendengar atau tuna
rungu dan tuna wicara, yang kita pahami dari
mereka agar mereka dan kita bisa nyambung
adalah bahasa rasa dan “keinginan” saja.
Di manapun manusia yang hidup di suatu
wilayah tertentu dan memiliki bahasa tertentu
pula, maka jin yang hidup di sana juga mengenali
bahasa manusia. Begitu pula dengan seorang
paranormal/dukun akan mengerti bahasa jin dari
“ kemauan” jin yang dimengerti sang dukun. Nah,
untuk berkomunikasi dengan jin maka tidak ada
cara lain selain kita perlu mendalami bahasa “rasa”
atau bahasa “batin”
Apa itu batin/rasa? Terus terang untuk menjawab
ini saya tidak mengacu pada khasanah ngelmu
Jawa. Saya akan mengacu pada apa yang saya
alami saja dan saya akan menjelaskan melalui hal-
hal yang sederhana.
Pertama, ketika Anda ingin mendeteksi benda
padat inera apa yang Anda gunakan? Kedua,
ketika Anda ingin mendeteksi benda cair apa
indera apa yang Anda gunakan? Ketiga, ketika
Anda ingin mendeteksi gas, indera apa yang
Anda gunakan?
Jelas bahwa kita mempergunakan indera yang
berbeda untuk merasakan kehadiran mereka. Zat
padat menggunakan mata untuk mengawali
pendeteksian kemudian diteruskan ke otak. Zat
cair menggunakan indera peraba: kulit atau lidah
kemudian diteruskan ke otak. Zat gas
menggunakan indera hidung kemudian
diteruskan ke otak.
Benda ada yang terlihat dan terasa oleh kulit
(benda padat/cair), namun ada pula yang tidak
terlihat, juga tidak terasa oleh kulit namun kita
yakin ada, sebab hidung bisa mengenali zat
tersebut. Nah, semakin abstrak tingkat zat, maka
kita menggunakan indera yang berbeda pula.
Bagaimana bila benda tersebut sama sekali tidak
bisa diindera oleh mata, kulit, hidung, lidah,
telinga?
Jin adalah jenis mahluk Tuhan yang ghaib. Ghaib
bisa diartikan sebagai sesuatu yang tidak bisa
ditangkap oleh indera fisik. Namun manusia juga
dibekali oleh Tuhan indera untuk mendeteksi yang
gaib ini. Indera itu disebut dengan batin/rasa yang
sama sekali bukan bersifat fisik.
Batin/rasa inilah yang menjadi modal manusia
untuk mengenali dimensi metafisik atau kegaiban.
Kegaiban itu bertingkat-tingkat, mulai gaibnya jin,
gaibnya malaikat, gaibnya takdir, dan
seterusnya …hingga gaibnya Tuhan Yang Serba
Gaib.
Dzat yang gaib bisa dirasakan keberadaannya dan
bisa pula kita berkomunikasi dengan mereka.
Asalkan kita rajin untuk olah rasa/ olah batin maka
manusia yang merupakan makhluk yang lengkap
ini (berdimensi fisik dan metafisik: punya jasad
namun juga punya yang gaib) pasti akan mampu
berkomunikasi… inilah kehebatan manusia.
Sekarang ini, yang ditonjolkan dalam hidup
sehari-hari hanya olah raga. Sepertinya manusia
hanyalah memiliki raga saja. Bagaimana dengan
rasa? Hampir tidak pernah disentuh dalam
wacana-wacana publik sebagai hal yang perlu
untuk didiskusikan, dilatih, dipertajam. Padahal,
sebelum ada jasad bukankah manusia adalah
ruh? Ruh lah yang akan abadi melintasi waktu
hingga akhir jaman. Sementara umur jasad?? Ya
usia 50-an tahun saja sudah sakit-sakitan dan bau
tanah …
Kita juga terbiasa menggunakan ungkapan yang
lebih mengedepankan aspek fisik daripada batin.
Misalnya saat kita mengucapkan SELAMAT HARI
RAYA, MOHON MAAF LAHIR BATIN … Lho
mengapa kok yang batin diletakkan setelah yang
lahir?? Harusnya, kita berani mengatakan MOHON
MAAF BATIN LAHIR …
Inilah ironi jaman sekarang. Yang lebih cenderung
untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang
materialisme. Paham yang lebih cenderung untuk
menomorsatukan materi sebagai satu-satunya
kenyataan terdalam (ultimate reality). Jadinya apa?
Ya akhirnya manusia tidak lebih melihat dirinya
hanya sebagai “bangkai” yang tanpa “ruh”…
Kembali ke tema awal, yaitu tentang jin tadi.
Bahwa karena jin adalah dzat yang gaib maka
mereka hanya bisa dideteksi bila kita
menggunakan indera rasa/batin saja. Kita
sebenarnya sudah terbiasa untuk menggunakan
indera rasa/hati/batin ini dalam hidup sehari-hari.
Marilah kita lebih fokus lagi untuk membahas
yang batin ini sekaligus juga untuk mempertajam
ngelmu kebatinan kita:
1. Apa yang Anda rasakan saat melihat ada teman
yang sedih? Ikut sedih..
2. Apa yang Anda rasakan saat melihat ada teman
yang bahagia? Ikut senang..
3. Apa yang Anda rasakan saat melihat ada bunga
mekar? Takjub..
4. Apa yang Anda rasakan saat melihat matahari
terbit? Tergetar …
Ini respon hati setelah “melihat” hal-hal yang
tampak oleh mata. Bagaimana respon hati bila
“ melihat” atau “merasakan” hal-hal yang tidak
tampak atau belum pernah tampak oleh mata
namun kita yakin ada?
Dari sini, kita hanya bisa mengatakan: tidak
mungkin …. Sebab pengetahuan kita, pandangan
hidup kita dan “dunia kita” sesungguhnya
dibangun oleh indera mata, telinga, hidung,
peraba kulit lidah dan seterusnya … Itu sebabnya,
untuk mengenali dunia ghaib, kita tidak
menggunakan semua indera-indera tadi. Kita
hanya menggunakan satu indera saja untuk
mengenali Jin yaitu: rasa/batin yang akhirnya
menimbulkan keyakinan yang haqqul yakin.
Rasa/batin adalah jalur lain indera manusia yang
lalu lintasnya tidak melalui indera fisik namun
sudah diinstal Tuhan di dalam otak kita.
Untuk mengenali rasa/batin yang merupakan
software yang sudah diinstal di otak ini, maka
banyak sarana membukanya. Misalnya, para ahli
yoga menggunakan sarana meditasi yaitu diam/
meneng. Menutup indera mata dan membuka
indera mata hati/batin/rasa dalam jangka yang
lama.
Seberapa lama Anda menutup mata namun tidak
tidur? Kebanyakan dari kita hanya menutup mata
kalau tidur … bagaimana dengan menutup mata
namun hati dan otak masih terjaga? Atau kalau
ngantuk baru menurup mata. Cobalah sekarang
mulai berlatih untuk menutup mata namun posisi
tubuh tetap duduk, atau berjalan.
Bila kesulitan, Anda bisa menggunakan sarana
kain hitam untuk menutupi mata Anda. Kemudian
duduklah di kursi dengan santai selama mungkin.
Bila Anda sudah terbiasa melakukan hal ini,
berlatihlah untuk menutupi mata dengan kain
hitam namun posisinya sekarang tidak lagi duduk
di kursi, melainkan di tempat-tempat yang sepi.
Saya bahkan terbiasa duduk diam dengan mata
tertutup di atas almari di kamar yang sepi …
bahkan duduk diam di dalam lemari kosong yang
sudah tidak dipergunakan lagi berjam-jam …
Terkadang, berjalan di ruang kosong atau tempat
tempat sepi..
Ini tentu saja upaya untuk mengendurkan peran
jasad fisik/ raga dan menguatkan peran rasa agar
semakin tajam …dan mendeteksi gerakan-gerakan
batin lain yang ada di sekitar kita.. termasuk
gerakan jin..
Setelah Anda terbiasa berlatih hal ini yang harus
kita lakukan adalah menata niat. Niat haruslah
yang baik dan pasrah total, sumarah dan
sumeleh pada Tuhan.
Sekian lama berlatih, rasa batin akan secara
otomatis bergetar …. bila dilatih terus… akan
semakin bergerak… batin akan semakin tajam
mendeteksi gerakan yang ghaib…. jin pun akan
terasa berada di sekeliling kita, di depan kita, di
belakang kita, di kanan kita … di kiri kita…
dan akhirnya batin kita akan sangat awas dan bisa
melihat sebagaimana kita melihat dengan mata …
Bila kita melihat jin dan dia juga melihat kita maka
yang perlu dilakukan sebagai berikut:
Pertama, ucapkan salam apa saja dalam hati
Kedua, sampaikan maksud Anda dalam hati
Ketiga, ucapkan selamat berpisah dalam hati
Untuk menguji keberadaan jin sekaligus untuk
membuktikan apakah indera batin kita tidak
menipu, maka yang perlu dilakukan adalah
mengajak seseorang yang siap menjadi medium/
perantara/perewangan.
Ajaklah jin yang untuk masuk ke dalam tubuh si
perewangan/medium … kemudian suruh orang
lain yang sudah menguasai ilmu kebatinan untuk
mewawancarainya … Untuk awal, jangan terlalu
lama menggunakan tubuh sang perewang.
Sebab tubuh si perewang yang sudah dimasuki
jin ini akan mudah capek. Sebab dia dipaksa
untuk mengalahkan otaknya yang normal untuk
menuruti kehendak otak lain (otak jin) yang
abnormal..
Bila Anda sudah bisa membuktikan dengan eksak
keberadaan jin dan mampu berkomunikasi
dengannya, maka yang perlu digarisbawahi
adalah menggunakan kemampuan tersebut untuk
disesuaikan dengan kehendak Tuhan …yakni
untuk tujuan ngelmu kebaikan yang luhur dan
mulia.
Jangan mencampuradukkan antara urusan jin
dengan urusan manusia. Tidak pada tempatnya
manusia meminta bantuan jin untuk
mendapatkan kekayaan, kekuasaan, kesaktian dan
urusan keduniaan lain. Manusia harus bisa berdiri
tegak untuk menuntaskan problem-problemnya
sendiri, dan sebagai makhluk Tuhan dia harus
pasrah total hanya pada Tuhan saja. Manusia
tidak boleh takluk apalagi dikuasai oleh makhluk-
makhluk-Nya. Matur nuwun dan salam apa saja

Baca Juga